Tuesday Nov 29, 2022

HEADLINE: Kisah-Kisah Dramatis dari Tragedi Kanjuruhan Malang, Dampak Psikisnya?

Peristiwa mencekam 1 Oktober 2022 di Stadion Kanjuruhan Malang menjadi kisah pilu bagi banyak orang, terutama yang hadir saat itu. Tragedi kelam itu telah menancap kuat di memori mereka.

Terdapat sederat kisah-kisah dramatis yang menggambarkan situasi mencekam yang dialami oleh beberapa pihak dan suporter baik di stadion maupun di luar stadion. Salah satunya yang diceritakan oleh suporter Aremania bernama Rizki Wahyu.

Baca Juga :
Jual Saldo Paypal
Jual Beli Saldo Paypal
Saldo Paypal Terpercaya

Rezki menceritakan bagaimana momen-momen mengerikan yang terjadi dalam tragedi Arema FC vs Persebaya lewat utas yang ditulis di akun Twitter miliknya @RezqiWahyu.

Menurut dia, situasi sepanjang pertandingan sebenarnya berjalan tertib. Hanya ada aksi psywar yang dilontarkan suporter ke pemain lawan. Namun kondisi berubah usai peluit panjang ditiup tanda akhir pertandingan yang dimenangkan Persebaya dengan skor 2-3.

Seorang suporter turun ke lapangan untuk memberikan motivasi dan kritik kepada pemain Arema. Kemudian aksi tersebut diikuti oleh sejumlah suporter lainnya dan semakin ramai.

Aparat yang mulai kewalahan mengendalikan massa di lapangan kemudian bersikap lebih keras terhadap suporter yang membandel. Mereka memukulnya dengan tongkat panjang dan tameng, ada suporter yang dikeroyok, sampai menembakkan gas air mata.

“Tapi saat aparat memukul mundur suporter dari sisi selatan, suporter sisi utara yang menyerang ke arah aparat. Aparat menembakkan beberapa kali gas air mata,” katanya.

“Terhitung puluhan gas air mata sudah ditembakkan ke arah suporter, di setiap sudut lapangan telah dikelilingi gas air mata. Ada juga yang langsung ditembakkan ke arah tribun penonton, yaitu tribun 10,” tambah Rezki.

Situasi ini membuat suporter panik dan semakin ricuh di atas tribun. Mereka berlarian mencari pintu keluar. Tapi sayang pintu keluar sudah penuh sesak oleh penonton yang ingin menyelamatkan diri.

Banyak ibu-ibu, wanita muda, orang tua dan anak-anak kecil yang terlihat sesak napas tak berdaya. Tidak kuat ikut berjubel untuk keluar dari stadion di tengah kepungan gas air mata.

“Mereka juga terlihat sesak karena terkena gas air mata. Seluruh pintu keluar penuh dan terjadi macet,” tuturnya.

Kondisi di luar stadion juga tak kalah mencekam. Tampak di luar banyak orang terkapar dan pingsan karena efek terjebak dalam stadion yang penuh gas air mata.

Banyak suporter lemas bergelimpangan. Terdengar teriakan makian, tangisan wanita, suporter berlumuran darah, hingga mobil-mobil hancur.

Sekitar pukul 22.30 WIB masih juga terjadi insiden pelemparan batu ke arah mobil aparat. Suporter kesal karena aparat dianggap mengurung suporter di dalam stadion dengan puluhan gas air mata. Tembakan gas air mata kembali terjadi di luar stadion, tepatnya di sekitar tribun 2.

Selain Rezki, Seorang Aremania bernama Fu juga bercerita soal tragedi Kanjuruhan Malang. Menurutnya, peristiwa tersebut masih membekas diingatannya hingga saat ini.

“Saya saksikan waktu itu karena saya di VIP saya ikut bantu pihak penyelenggara untuk pengamanan,” kata Fu menceritakan kepada rekan-rekan NGO secara langsung seperti dikutip dari akun youtube Yayasan LBH Indonesia, Rabu (5/10/2022).

Fu menolak penggunaan diksi kericuhan untuk mengambarkan tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Menurut dia, bahasa kericuhan lebih tepat jika kejadian terjadi akibat ulah adanya suporter tamu atau suporter tuan rumah.

Baca juga :
Jasa Pbn Premium
Jasa Pbn Berkualitas
Jasa Pbn

Sedangkan, suporter lawan sepakat tidak hadir pada pertandingan Arema melawan Persebaya 1 Oktober 2022 kemarin.

“Dari pihak tamu tidak menghadirkan suporter dari Surabaya. Ini sebenarnya bukan kerusuhan tapi ini adalah insiden,” ujar dia.

Fu menerangkan, tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang lebih tepatnya insiden kelalaian dari semua pihak. Terutama, menurut dia dari Kesatuan Brimob.

“Yang saya tahu pihak brimob tidak bisa menahan diri,” ujar dia.

Pengalaman pilu lainnya dialami oleh seorang bernama Elimiati. Ia tak akan pernah melupakan tragedi Stadion Kanjuruhan Malang. Pertandingan besar yang disangka bisa ditonton dengan aman, justru menjadi peristiwa maut. Merenggut nyawa suami dan anaknya yang baru berusia 3 tahun.

Elimiati menceritakan, ia bersama suaminya Rudi Harianto dan putra bungsunya, M Virdi Prayoga berangkat ke Stadion Kanjuruhan Malang bersama saudara-saudaranya. Sedangkan putrinya, Caynanda Billa, berusia 14 tahun tak ikut menonon.

Warga Jalan Sumpil gang 2, Blimbing, Kota Malang ini mengatakan laga Arema versus Persebaya itu merupakan pertandingan ketiga mereka menonton bersama dan selalu di tribun 13. Ia mengajak anaknya ikut serta karena selain suka Arema, juga untuk hiburan.

“Biasanya ya nonton bareng di televisi. Saya mengajak menonton untuk menyenangkan anak karena selama ini jarang main akibat pandemi,” kata Elimiati.

Niat menonton pertandingan itu sudah mereka rancang sejak jauh-jauh hari. Sebab mereka meyakini pertandingan bakal berjalan aman lantaran suporter Persebaya Surabaya dipastikan tidak hadir ke stadion.

“Jadi saya kira ini aman, ya niat melihat Arema main saja. Pagi hari sebelum pertandingan, anak saya sempat minta potong rambut biar lebih rapi,” ucap Elimiati.

Rombongan keluarga ini berangkat bersama. Selama pertandingan berlangsung, tidak ada masalah berarti apapun di dalam stadion. Elimiati bersama suami dan anaknya saat di tribun juga bisa berfoto bersama.

“Masih sempat foto, ternyata itu foto kebersamaan kami untuk terakhir kalinya,” katanya lirih.

Petaka justru terjadi begitu wasit meniup peluit tanda pertandingan selesai. Begitu terjadi kekacauan, seiring banyak suporter masuk lapangan, aparat keamanan melepas tembakan gas air mata ke sejumlah titik termasuk sektor 13.

“Suami saya langsung mengajak pulang, ternyata pintu sektor 13 hanya terbuka sedikit. Hanya cukup untuk dilewati dua orang saja,” tuturnya.

Akses keluar yang sulit ditambah kepulan asap gas air mata di tribun Stadion Kanjuruhan membuat penonton berebut keluar menyelamatkan diri. Saling dorong agar bisa segera keluar tak terelakkan. Elimiati berjalan bersama putranya, sedangkan suaminya berjalan di depannya.

“Posisi seperti itu, kami lalu terpisah. Saya tak tahu suami saya sudah bisa keluar atau tidak. Anak saya juga entah di mana,” katanya.

Hampir 30 menit dalam kondisi kacau itu, Elimiati diselamatkan suporter lainnya. Setelah suasana mulai kondusif, ia kembali naik ke tribun 13 Stadion Kanjuruhan. Di tribun itu ia berjumpa dengan adik iparnya, lalu ia meminta bantuan mencari suami dan anaknya.

“Adik saya bilang aman mbak, ada di tempat parkiran. Ternyata maksudnya agar saya tenang menunggu di tribun bersama saudara saya lainnya. Karena suami saya saat itu sudah meninggal,” ujar Elimiati.

Ia dan lainnya bertahan di tribun meski harus berjuang melawan sesak nafas dengan mata dan tenggorokan terasa perih akibat gas air mata. Kondisi gerimis tanpa angin membuat asap hanya mengepul di satu titik.

Tak lama kemudian, mereka keluar stadion. Elimiati mengatakan salah seorang saudaranya meminta foto anaknya, Virdi, untuk diberikan ke polisi agar membantu mencari. Serta disebar ke grup sosial media Aremania guna memudahkan pencarian.

“Ternyata posisi anak saya ketemu dalam keadaan meninggal dunia, berada di kamar mayat RSUD Kanjuruhan. Jenazah suami saya di RS Saiful Anwar,” ujarnya.

Anaknya mengalami luka pada bagian kepala, sedangkan suaminya tak ada sedikitpun luka. Kulit kedua korban juga tak tampak seperti gosong seperti beberapa korban lainnya.

“Tak tahu apakah terinjak-injak atau sesak nafas. Tidak ada surat keterangan dari rumah sakit,” katanya.

Niat mencari hiburan dengan menonton pertandingan sepakbola berakhir duka. Jenazah anaknya tiba di rumah sekitar pukul 02.00. Satu jam kemudian menyusul jenazah suaminya diantar mobil ambulan ke rumah.

“Saya ingin peristiwa ini diusut tuntas. Terserah pemerintah mau buat keputusan apa, pokoknya ada rasa keadilan,” katanya.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top